PEMIKIR BEBAS
Kehidupan itu unik. Makhluk hidup itu unik. Manusia itu unik. Saking uniknya, masih banyak aspek yang belum kita mengerti dan pahami dari makhluk bernama manusia. Beragam pengetahuan dan teknologi mencoba membedah apa dan bagaimana perihal manusia, tetap saja banyak hal yang masih misterius dan belum tergali dari dalam diri manusia.
Pada
dasarnya perbedaan itu alami. Tak ada yang benar-benar sama persis dalam hidup
ini. Bahkan dua orang manusia kembar sekalipun tidak ada yang benar-benar
identik sama. Biologisnya mirip, tapi tetap tidak persis sama. Apalagi jika
masuk ke alam rohaninya, kemungkinan akan jauh lebih berbeda lagi.
Begitu
pula dalam ranah berpikir. Manusia memiliki latar belakang dan keyakinan yang
berbeda sehingga pemikirannya pun tidak persis sama. Bahkan jika mereka saling
bersetuju dalam suatu persoalan. Keduanya tetap memiliki persepsi yang berbeda
dengan kesetujuannya tersebut.
Agamawan
(teolog) dan pemikir bebas (freethinker) adalah kelompok pemikiran yang
seringkali berlawanan atau berbeda pendapat. Mengapa ya seringkali berbeda? Apa
yang menyebabkan pemikirannya berbeda? Darimana perbedaan pemikiran itu muncul?
Mengapa kedua kelompok pemikir ini sering berhadapan pemikiran?
Hal
ini beranjak dari dua paradigma berpikir yang berbeda, kita bisa melihat bahwa
teolog adalah seorang believer dan pemikir bebas adalah seorang unbeliever,
lebih jauh lagi pemikir bebas adalah orang yang skeptis. Seorang pemikir bebas
bisa jadi ia seorang atheis, agnostik, maupun theis. Seorang teolog pastilah seorang theis tulen.
Paradigma
berbeda mengakibatkan pola pikir juga berbeda. Pemikir bebas beranjak dari
kesadaran bahwa proses berpikir tidak boleh dibelenggu oleh dogma. Secara umum,
pemikiran bebas adalah sudut pandang filosofis yang berpendapat bahwa pemikiran
harus dibentuk atas dasar logika, nalar, dan empirisme dan bukan atas dasar
otoritas, tradisi, atau dogma-dogma lain.
Seorang
pemikir bebas tentu saja tidak menyebut dirinya seorang unbeliever
karena ini adalah sebuah kata negative, seorang pemikir bebas lebih menyukai
kata-kata positif, yaitu: BEBAS. Seorang freethinker adalah seorang yang BEBAS
dalam berpikir, BEBAS dalam bertanya, dan BEBAS dalam meragukan. Seorang
pemikir bebas tidak terikat oleh dogma apapun.
Mohon
diingat bahwa pengertian bebas di sini adalah bebas dalam arti berpikir,
bertanya, atau meragukan sesuatu saja, bukan bebas dalam arti bertindak.
Berpikir punya paradigma tersendiri dan bertindak pun punya paradigma
tersendiri. Dua-duanya punya paradigma yang berbeda, sudut pandang yang
berbeda, dan acuan yang berbeda.
Sebaliknya,
pemikiran teolog tidaklah bisa sebebas seorang pemikir bebas pada umumnya.
Seorang teolog terikat pada ajaran, kitab, dan apapun yang dilakukan oleh
pencetus agamanya. Seorang teolog muslim akan terikat dengan apa yang nabi
Muhammad ajarkan. Begitu pula dengan teolog Buddha, Kristen, Hindu, juga
Konghucu, dan yang lainnya. Mereka terikat dan bahkan bergantung 100% pada
dogma, tradisi, dan pemikiran yang berlaku dalam agamanya.
Pemikir
bebas lebih cenderung berkiblat pada sains dan kemanusiaan, tapi pemikiran
positif dari siapapun—termasuk dari kaum agamawan–tetap bisa diterima,
sepanjang baik bagi kemanusiaan. Sebaliknya, pemikir bebas akan melawan agama,
agamawan, dan bahkan Tuhan jika mereka menginjak-injak harkat dan martabat
kemanusiaan.
Jika
ada agamawan menggunakan instrument Tuhan untuk memaksakan, mengebiri, dan
bahkan menindas kemanusiaan, seorang pemikir bebas tak segan-segan untuk
merapat ke ateis, agnostis, humanis, maupun sekuleris, dan menggunakan
pemikiran mereka untuk melawan kaum agamawan. Tentu saja, melawan dengan
pemikiran. Pemikir bebas tak punya senjata, selain pena/keyboard.
“Kau
bilang itu perintah Tuhanmu? Silahkan buktikan dulu bahwa Tuhan itu ada!
Jangan-jangan apa yang kau anggap Tuhan itu adalah hantu. Dan…jika benar itu
dari Tuhan, mana mandat yang Dia berikan sehingga kamu berhak mengatakan ini
dan itu mengatasnamakan Tuhan. Benarkah kamu ditunjuk menjadi juru bicaranya
Tuhan? Bagaimana kamu bisa membedakan itu berasal dari Tuhan dan bukan Tuhan?”
Sebaliknya,
jika pemikiran kaum teolog mendorong pertumbuhan kualitas-kualitas kemanusiaan,
dengan senang hati seorang pemikir bebas akan mendukungnya….secara
gratis…tis…tis. Tanpa syarat dan tanpa embel-embel. Asalkan hal tersebut adalah
benar merupakan yang terbaik bagi kemanusiaan. Kiblatnya adalah kepentingan
kemanusiaan, bukan kepentingan yang lainnya.
Pemikir
bebas akan selalu mengingatkan agama, agamawan, bahkan Tuhan (jika memang ada)
bahwa fungsi agama adalah meningkatkan moralitas dan bukannya melanggar
moralitas hanya karena mereka hendak memaksakan imajinasi mereka mengenai Tuhan
mereka kepada orang/pihak lain yang berbeda Tuhan atau bahkan tidak memiliki
Tuhan seperti halnya kaum atheis.
Pemikir
bebas tidak berkehendak menghapuskan agama, profesi agamawan, dan bahkan Tuhan.
Agama adalah buah pemikiran. Pemikiran tidak mungkin dihapuskan. Pemikiran
tidak bisa dibunuh. Pemikiran akan selalu hidup dan terus hidup. Sepanjang
manusia masih berpikir, berimajinasi, dan berharap, akan selalu ada agama.
Agama akan selalu ada sepanjang masa, walaupun nanti mungkin tidak lagi disebut
agama.
Pemikir
bebas hanya berusaha mengingatkan bahwa tak ada kebenaran absolut dari
pemikiran pribadi dan budaya—termasuk agama di dalamnya. Semua pemikiran adalah
setara. Tak ada yang lebih antara satu dengan yang lainnya. Jika saja tafsiran
agama kaum agamawan melewati batas demarkasi harkat dan martabat kemanusiaan,
pemikir bebas siap mengkritisinya.
Kita
memang tidak mungkin menyamakan semua perbedaan yang ada. Tetapi, pelangi
menjadi indah justru karena warnanya beraneka ragam. Televisi berwarna jauh
lebih indah disbanding televisi hitam putih. Kehidupan menjadi indah justru
karena adanya beragam warna, beragam pemikiran, dan beragam kebutuhan. Hal
terpentingnya adalah bagaimana menyajikan perbedaan tersebut–pemikiran di
dalamnya–dalam harmoni yang indah.
sumber : kompasiana

0 komentar :
Posting Komentar