Breaking News
Loading...

from your think

from your think

Recent Post

Kamis, 12 Februari 2015
PENGERTIAN DOGMA

PENGERTIAN DOGMA




Dogma (dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata) adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.

Dogma, iman, dan logika

Ada kesamaan konsep antara dogma dan aksioma yang digunakan sebagai titik awal untuk analisis logika. Aksioma dapat dianggap sebagai konsep dasar atau 'sudah semestinya demikian' sehingga tak terbayangkan orang akan membantahnya. Dogma juga bersifat sangat mendasar (misalkan, dogma bahwa 'Tuhan itu ada') namun juga mencakup himpunan yang lebih besar dari kesimpulan yang membentuk bidang pikiran (keagamaan) (misalkan, 'Tuhan menciptakan alam semesta'). Aksioma adalah pernyataan yang tidak bisa dibuktikan benar atau salah, atau pernyataan yang diterima atas kegunaannya. Dogma mungkin dapat dianggap sebagai sesuatu yang lebih kompleks, sebuah produk dari bukti-bukti lainnya. Filsafat dan teologi menemukan cara untuk membahas semua pernyataan, baik yang diklasifikasikan sebagai aksioma atau dogma.
Dogma keagamaan, yang dipikirkan secara matang, didasarkan pada bukti-bukti selain dogma itu sendiri dan akhirnya kepada iman. Mungkin puncak uraian terorganisasi dari sebuah dogma teologi adalah Summa Theologica Katolik Roma yang dicetuskan oleh St Thomas Aquinas, yang mengusulkan hubungan antara iman dan penolakan: "Bila lawan kita tidak percaya akan wahyu Tuhan, maka tidak akan ada cara lain untuk membuktikan obyek-obyek iman melalui penalaran, melainkan hanya dengan menjawab penolakannya atau penyangkalannya —bila memang dia memilikinya— terhadap iman atau kepercayaan tersebut" .

Dogma dalam agama

Dogma banyak ditemukan dalam banyak agama seperti Kristen dan Islam, di mana mereka dianggap sebagai prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua umat agama tersebut. Sebagai unsur dasar dari agama, istilah dogma diberikan kepada ajaran-ajaran teologi yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul bantahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keragu-raguan pribadi. Dogma dibedakan dari pandangan teologis mengenai hal-hal yang kurang dikenal. Dogmata dapat dijelaskan dan diuraikan tetapi tidak dibantah dalam ajaran-ajaran baru. (mis. Galatia 1:8-9). Penolakan terhadap dogma dianggap ajaran sesat dan dapat menyebabkan seseorang dikeluarkan dari kelompok agamanya, meskipun di dalam Injil Kristen hal ini tidak dilakukan dengan keras Mt 18:15-17).
Bagi sebagian besar anggota Gereja Ortodoks, dogmata sudah dikandung di dalam Doa Syahadat Nicea dan di dalam dua, tiga, atau tujuh konsili ekumenis yang pertama (tergantung apakah orang itu seorang Nestorian, Monofisit, ataukah seorang Kristen Ortodoks Timur. Orang Katolik Roma juga mengakui dogma yang dihasilkan oleh 14 konsili ekumenis yang belakangan dan sejumlah keputusan yang dirumuskan oleh paus yang menjalankan infalibilitas kepausan (lih. mis. Maria ibunda Yesus. Kaum Protestan, pada tingkat yang berbeda-beda mengakui bagian-bagian dari dogmata ini, dan seringkali berpegang pada 'Pernyataan Iman' yang khas bagi alirannya, yang menyimpulkan dogma-dogma pilihan mereka.
Dalam Islam, prinsip-prinsip dogma dikandung di dalam aqidah.

Dogma di luar agama

Banyak keyakinan non-agama seringkali digambarkan sebagai dogma, misalnya di bidang politik atau filsafat, maupun di dalam masyarakat sendiri. Istilah dogmatisme mengandung arti bahwa orang berpegang pada keyakinan-keyakinan mereka tanpa berpikir dan hanya ikut-ikutan saja. Dogmata dianggap anatema bagi ilmu pengetahuan dan analisis ilmiah meskipun orang bisa berdebat bahwa metode ilmiah itu sendiri pun merupakan dogma bagi banyak ilmuwan. Dalam cara yang sama dalam filsafat, seperti misalnya rasionalisme dan skeptisisme, meskipun pertimbangan-pertimbangan metafisika biasanya tidak tampak jelas dalam bidang-bidang itu, dogma-dogma keagamaan yang tradisional cenderung ditolak sementara praduga-praduga yang tidak teruji diterima. Dalam Wikipedia sendiri, konsep NPOV dapat dianggap telah mencapai status dogma, Ilmu lebih cenderung kepada dogma karena sering kali sebuah produk ilmu akan dibantah di masa depan dengan instrument yang lebih modern.

sumber : wikipedia
Senin, 09 Februari 2015
ANTARA FILSAFAT DAN AGAMA

ANTARA FILSAFAT DAN AGAMA


Filsafat merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang non empirik dan non eksprimental, diperoleh manusia melalui usaha dengan pikirannya yang mendalam. Mengenai objek materialnya tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan, yakni mengenai apa saja. Adapun yang berbeda adalah mengenai objek formalnya. Objek formal filsafat mengenai sesuatu yang menyangkup sifat dasar, arti, nilai, dan hakikat dari sesuatu. Jadi bukan sesuatu yang dapat dijangkau dengan indera dan percobaan. Menjangkaunya hanya mungkin dengan pemikiran filosofis yaitu pemikiran yang mendalam, logis dan rasional.
Sedangkan agama adalah kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan mengenai berbagai hal kehidupan manusia dan lingkungannya. Jadi kebenaran agama bukan hasil usaha manusia. Manusia tinggal menerima begitu saja sebagai paket dari Tuhan.
Filsafat berdasarkan otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia. Sedangkan agama mendasarkan pada otoritas wahyu.
Menurut Prof. Nasrun SH., mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan kepada agama. Malah filsafat yang sejati itu terkandung dalam agama. Apabila filsafat tidak berdasarkan kepada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan akal pikiran saja maka filsafat tersebut tidak akan memuat kebenaran objektif, karena yang memberikan pandangan dan putusan adalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal pikiran itu terbatas, sehingga filsafat yang berdasarkan pada akal pikiran semata tidak akan sanggup memberi keputusan bagi manusia, terutama dalam tingkat pemahamannya terhadap yang ghaib.[3]
Antara Filsafat dan Agama
Melalui uraian di atas, kita bisa mengidentifikasi bahwa pada mulanya terdapat perbedaan antara filsafat dan agama terutama dalam hal eksistensi keduanya, yakni filsafat berusaha menemukan kebenaran dengan berdasarkan akal manusia sedangkan agama adalah suatu kebenaran yang berdasarkan wahyu dari Tuhan.

Drs. H. Abu Ahmadi, dalam bukunya ”Filsafat Islam” menguraikan tentang perbedaan-perbedaan antara filsafat dan agama:

1. Filsafat berarti memikir, jadi yang penting yaitu ia dapat berpikir, sedangkan agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting yaitu hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.

2. Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memaham, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama hubungan manusia dengan Tuhan.

3. C.S. Lewis membedakan enjoyment dan contemplation, misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut enjoyment, sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut contemplation, yaitu memikirkan pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu. Sedangkan agama dapat dikiaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau contentment.

4. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang, sedangkan agama banyak berhubungan dengan hati.

5. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya. Sedangkan agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya.

6. Seorang ahli filsafat jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain biasanya bersikap lunak. Sedangkan agama, bagi pemeluk-pemeluknya akan mempertahankan agamanya dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.

7. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaanya, tetapi sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Sedangkan agama, disamping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, tetapi juga mempunyai efek menenangkan jiwa pemeluknya.

8. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen walaupun argumennya sendiri. Sedangkan dalam agama, filsafat sangatlah penting peranannya dalam mempelajari agama.

Demikianlah antara lain perbedaan-perbedaan antara filsafat dan agama. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan hanya berdasarkan atas kandungan dan objek filsafat dan agama saja, akan tetapi juga membedakan antara karakter-karakter para filosof dan para agamawan. Perbedaan karakter antara keduanya tentunya dikarenakan efek dari bidang masing-masing yang mereka tekuni, sehingga kita bisa mengklasifikasi karakter mereka ke dalam tiga bagian yaitu:

1. Memegang teguh terhadap agama dan menolak filsafat. Ini adalah pendirian orang agama yang tidak berfilsafat.

2. Memegangi filsafat dan menolak agama.

Ini adalah pendirian orang yang berfilsafat dengan tidak mengindahkan kandungan-kandungan agama.

3. Mengusahakan pemaduan antara filsafat dan dengan agama menurut cara tertentu.

            Inilah cara yang ditempuh oleh seorang filosof yang beriman atau seorang filosof yang seharusnya memperhatikan kandungan-kandungan agama.

            Dalam perbedaan-perbedaan antara keduanya, setidaknya ada kesamaan-kesamaan, seperti yang dikatakan Prof. Nasrun SH. Bahwa ”Filsafat yang sejati itu terkandung dalam agama.” Untuk menggali kesamaan-kesamaan antara filsafat dan agama, penulis akan mencoba untuk menguraikan analisa al-Kindi dalam rangka untuk menemukan titik temu antara keduanya.
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa salah satu fungsi utama filasafat adalah mencari kebenaran dengan berdasarkan nalar atau akal manusia, sedangkan agama adalah sebuah kebenaran yang berdasarkan wahyu Tuhan. Pertemuan antara keduanya sangatlah rumit untuk diwujudkan. Dalam hal ini, al-Kindi melakukan pendekatan terhadap dua subjek tersebut—yakni nalar dan wahyu—dengan dua tingkatan. Pertama, didasarkan atas kesamaan tujuan antara filsafat dan agama dan yang kedua, secara epistemologis.
Dalam tingkatan pertama, sebelum ia membentangkan pandangannya, lepas dari adanya kesamaan tujuan-tujuan antara agama dan filsafat, al-Kindi mempertahankan perlunya filsafat dan dapat disesuaikannya dengan agama. Uraian George N. Atiyeh, di dalam bukunya ”Al-Kindi Tokoh Filosof Muslim,” menampakkan kepiawaian al-Kindi dalam menghadapi serangan orang-orang yang fanatik dengan agama dan penentang kegiatan filosofis macam apapun juga, ia menyatakan:
“Filsafat adalah suatu kebutuhan, bukan suatu kemewahan. Ia mengatakan kepada orang-orang yang fanatik tersebut, bahwa mereka harus menyatakan, berfilsafat itu perlu atau tidak perlu. Jika perlu, mereka harus memberikan alasan-alasan dan argumen-argumen untuk membuktikannya. Padahal dengan memberikan alasan-alasan dan argumen-argumen tersebut, mereka pada dasarnya telah berfilsafat. Oleh karena itu filsafat adalah perlu dalam kedua hal itu.”
Pembelaan yang dikemukakan al-Kindi tersebut mempunyai arti yang sangat penting, tidak hanya karena dilakukan dalam menghadapi tantangan agama, tetapi juga diungkapkan kepada kita, bahwa al-Kindi tidak bermaksud untuk merongrong wahyu dengannya, akan tetapi sebaliknya, tujuan utamanya adalah untuk memberikan tempat bagi konsep-konsep keagamaan, diatas apa yang ia anggap merupakan landasan-landasan yang lebih kokoh dan benar, penggunaan bukti-bukti yang demonstratif.
Argumen utama yang digunakannya untuk mempertahankan filsafat adalah dengan memberikan suatu asumsi bahwa filsafat dan agama mempunyai tujuan-tujuan yang sama, yaitu pengetahuan tentang ke-esaan Tuhan dan pengejaran kebajikan. Ia menguatkan hal ini dengan mengatakan, bahwa filsafat mencakup ”teologi, ilmu pengetahuan ke-esaan Tuhan, ilmu etika, dan ilmu yang berguna bagi manusia untuk menjalankan kebaikan dan mencegah keburukan” diantara cabang-cabangnya.
Lebih lanjut al-Kindi menyatakan bahwa agama melakukan hal yang sama. Substansi semua amanat kenabian yang sebenarnya hanyalah untuk mengukuhkan ke-Ilahian Tuhan yang unik, dan memerintahkan kepada kita untuk memilih dan mengejar kebajikan-kebajikan yang paling diridlai di mata Tuhan.
Dengan kata lain, al-Kindi melihat bahwa pada tingkat teoritis agama dan filsafat menggarap suatu masalah yang sama, ke-esaan Tuhan. Juga pada tingkat praktis, keduanya mempunyai tujuan-tujuan yang tidak berbeda, yaitu mendorong manusia untuk mencapai kehidupan moral yang lebih tinggi. Oleh karena itu pada kedua tingkat tersebut pemikiran al-Kindi telah memperjelas kenyataan, bahwa tidak ada perbedaan esensial antara agama dan filsafat, oleh karena keduanya mengarah kepada hal yang sama. Disamping itu, dimasukkannya teologi di dalam filsafat oleh al-kindi, menghadapkan kita kepada suatu masalah. Jika tujuan utama filsafat untuk memperkuat kedudukan agama, maka filsafat hendaknya menjadi pembantu teologi bukan sebaliknya
PEMIKIR BEBAS

PEMIKIR BEBAS





Kehidupan itu unik. Makhluk hidup itu unik. Manusia itu unik. Saking uniknya, masih banyak aspek yang belum kita mengerti dan pahami dari makhluk bernama manusia. Beragam pengetahuan dan teknologi mencoba membedah apa dan bagaimana perihal manusia, tetap saja banyak hal yang masih misterius dan belum tergali dari dalam diri manusia.
Pada dasarnya perbedaan itu alami. Tak ada yang benar-benar sama persis dalam hidup ini. Bahkan dua orang manusia kembar sekalipun tidak ada yang benar-benar identik sama. Biologisnya mirip, tapi tetap tidak persis sama. Apalagi jika masuk ke alam rohaninya, kemungkinan akan jauh lebih berbeda lagi.
Begitu pula dalam ranah berpikir. Manusia memiliki latar belakang dan keyakinan yang berbeda sehingga pemikirannya pun tidak persis sama. Bahkan jika mereka saling bersetuju dalam suatu persoalan. Keduanya tetap memiliki persepsi yang berbeda dengan kesetujuannya tersebut.
Agamawan (teolog) dan pemikir bebas (freethinker) adalah kelompok pemikiran yang seringkali berlawanan atau berbeda pendapat. Mengapa ya seringkali berbeda? Apa yang menyebabkan pemikirannya berbeda? Darimana perbedaan pemikiran itu muncul? Mengapa kedua kelompok pemikir ini sering berhadapan pemikiran?
Hal ini beranjak dari dua paradigma berpikir yang berbeda, kita bisa melihat bahwa teolog adalah seorang believer dan pemikir bebas adalah seorang unbeliever, lebih jauh lagi pemikir bebas adalah orang yang skeptis. Seorang pemikir bebas bisa jadi ia seorang atheis, agnostik, maupun theis. Seorang teolog pastilah seorang theis tulen.
Paradigma berbeda mengakibatkan pola pikir juga berbeda. Pemikir bebas beranjak dari kesadaran bahwa proses berpikir tidak boleh dibelenggu oleh dogma. Secara umum, pemikiran bebas adalah sudut pandang filosofis yang berpendapat bahwa pemikiran harus dibentuk atas dasar logika, nalar, dan empirisme dan bukan atas dasar otoritas, tradisi, atau dogma-dogma lain.
Seorang pemikir bebas tentu saja tidak menyebut dirinya seorang unbeliever karena ini adalah sebuah kata negative, seorang pemikir bebas lebih menyukai kata-kata positif, yaitu: BEBAS. Seorang freethinker adalah seorang yang BEBAS dalam berpikir, BEBAS dalam bertanya, dan BEBAS dalam meragukan. Seorang pemikir bebas tidak terikat oleh dogma apapun.
Mohon diingat bahwa pengertian bebas di sini adalah bebas dalam arti berpikir, bertanya, atau meragukan sesuatu saja, bukan bebas dalam arti bertindak. Berpikir punya paradigma tersendiri dan bertindak pun punya paradigma tersendiri. Dua-duanya punya paradigma yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan acuan yang berbeda.
Sebaliknya, pemikiran teolog tidaklah bisa sebebas seorang pemikir bebas pada umumnya. Seorang teolog terikat pada ajaran, kitab, dan apapun yang dilakukan oleh pencetus agamanya. Seorang teolog muslim akan terikat dengan apa yang nabi Muhammad ajarkan. Begitu pula dengan teolog Buddha, Kristen, Hindu, juga Konghucu, dan yang lainnya. Mereka terikat dan bahkan bergantung 100% pada dogma, tradisi, dan pemikiran yang berlaku dalam agamanya.
Pemikir bebas lebih cenderung berkiblat pada sains dan kemanusiaan, tapi pemikiran positif dari siapapun—termasuk dari kaum agamawan–tetap bisa diterima, sepanjang baik bagi kemanusiaan. Sebaliknya, pemikir bebas akan melawan agama, agamawan, dan bahkan Tuhan jika mereka menginjak-injak harkat dan martabat kemanusiaan.
Jika ada agamawan menggunakan instrument Tuhan untuk memaksakan, mengebiri, dan bahkan menindas kemanusiaan, seorang pemikir bebas tak segan-segan untuk merapat ke ateis, agnostis, humanis, maupun sekuleris, dan menggunakan pemikiran mereka untuk melawan kaum agamawan. Tentu saja, melawan dengan pemikiran. Pemikir bebas tak punya senjata, selain pena/keyboard.
“Kau bilang itu perintah Tuhanmu? Silahkan buktikan dulu bahwa Tuhan itu ada! Jangan-jangan apa yang kau anggap Tuhan itu adalah hantu. Dan…jika benar itu dari Tuhan, mana mandat yang Dia berikan sehingga kamu berhak mengatakan ini dan itu mengatasnamakan Tuhan. Benarkah kamu ditunjuk menjadi juru bicaranya Tuhan? Bagaimana kamu bisa membedakan itu berasal dari Tuhan dan bukan Tuhan?”
Sebaliknya, jika pemikiran kaum teolog mendorong pertumbuhan kualitas-kualitas kemanusiaan, dengan senang hati seorang pemikir bebas akan mendukungnya….secara gratis…tis…tis. Tanpa syarat dan tanpa embel-embel. Asalkan hal tersebut adalah benar merupakan yang terbaik bagi kemanusiaan. Kiblatnya adalah kepentingan kemanusiaan, bukan kepentingan yang lainnya.
Pemikir bebas akan selalu mengingatkan agama, agamawan, bahkan Tuhan (jika memang ada) bahwa fungsi agama adalah meningkatkan moralitas dan bukannya melanggar moralitas hanya karena mereka hendak memaksakan imajinasi mereka mengenai Tuhan mereka kepada orang/pihak lain yang berbeda Tuhan atau bahkan tidak memiliki Tuhan seperti halnya kaum atheis.
Pemikir bebas tidak berkehendak menghapuskan agama, profesi agamawan, dan bahkan Tuhan. Agama adalah buah pemikiran. Pemikiran tidak mungkin dihapuskan. Pemikiran tidak bisa dibunuh. Pemikiran akan selalu hidup dan terus hidup. Sepanjang manusia masih berpikir, berimajinasi, dan berharap, akan selalu ada agama. Agama akan selalu ada sepanjang masa, walaupun nanti mungkin tidak lagi disebut agama.
Pemikir bebas hanya berusaha mengingatkan bahwa tak ada kebenaran absolut dari pemikiran pribadi dan budaya—termasuk agama di dalamnya. Semua pemikiran adalah setara. Tak ada yang lebih antara satu dengan yang lainnya. Jika saja tafsiran agama kaum agamawan melewati batas demarkasi harkat dan martabat kemanusiaan, pemikir bebas siap mengkritisinya.
Kita memang tidak mungkin menyamakan semua perbedaan yang ada. Tetapi, pelangi menjadi indah justru karena warnanya beraneka ragam. Televisi berwarna jauh lebih indah disbanding televisi hitam putih. Kehidupan menjadi indah justru karena adanya beragam warna, beragam pemikiran, dan beragam kebutuhan. Hal terpentingnya adalah bagaimana menyajikan perbedaan tersebut–pemikiran di dalamnya–dalam harmoni yang indah.
sumber : kompasiana
Back To Top